
NEW YORK – Harga Bitcoin kembali menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada Jumat (11/7/2025) waktu Amerika Serikat, seiring dengan meningkatnya arus modal dari kalangan institusi ke dalam produk exchange-traded fund (ETF) berbasis kripto. Berdasarkan data dari Coin Metrics, harga Bitcoin sempat mencapai puncaknya di level 118.872 dollar AS, sebelum akhirnya stabil di sekitar 118.029 dollar AS—menguat hampir 4 persen hanya dalam sehari.
Tak hanya Bitcoin, Ether—mata uang kripto terbesar kedua setelah BTC—juga mencatat lonjakan signifikan, dengan kenaikan hampir 7 persen. Ini menjadikan Ether kembali menembus level 3.000 dollar AS, angka yang belum tercapai sejak Februari 2025.
Penguatan dua aset kripto utama ini juga berimbas pada saham-saham perusahaan yang berkaitan erat dengan dunia kripto. Mara Holdings dan Riot Platforms, dua entitas penambang Bitcoin besar, mencatat kenaikan masing-masing sekitar 3 persen dalam sesi pra-pasar. MicroStrategy, perusahaan yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin dalam jumlah besar dan kerap dianggap sebagai proksi BTC di bursa, juga mengalami penguatan sebesar 3 persen. Di sisi lain, saham perusahaan seperti Coinbase, Robinhood, eToro, dan Circle menunjukkan pergerakan yang lebih stabil.
Arus Masuk ke ETF Bitcoin Cetak Rekor Tahun Ini
Faktor utama yang memicu kenaikan harga Bitcoin kali ini adalah arus dana masuk yang sangat besar ke dalam produk ETF kripto, terutama ETF Bitcoin. Pada Kamis (10/7/2025), tercatat arus masuk sebesar 1,18 miliar dollar AS ke ETF Bitcoin, menjadikannya arus masuk terbesar sepanjang tahun 2025 sejauh ini. Tidak hanya Bitcoin, ETF berbasis Ether juga mencatatkan performa luar biasa, dengan arus masuk mencapai 383,1 juta dollar AS, yang merupakan arus tertinggi kedua dalam sejarahnya menurut data dari SoSoValue.
Sentimen Makro dan Politik Ikut Dorong Kenaikan
Kondisi makroekonomi Amerika Serikat turut memberi kontribusi terhadap reli ini. Ketidaksepakatan internal di antara pejabat The Federal Reserve (The Fed) terkait kebijakan suku bunga memberikan ruang spekulatif bahwa langkah pelonggaran moneter bisa segera diambil. Sentimen tersebut diperkuat oleh performa saham-saham teknologi yang juga menguat, mendorong minat investor untuk beralih ke aset berisiko seperti kripto.
Markus Thielen, CEO dari 10x Research, menyatakan bahwa lonjakan ini merupakan kelanjutan dari tren sejak Bitcoin mulai menembus resistance pada 22 Mei lalu. Ia menambahkan bahwa ekspektasi terhadap pergantian kepemimpinan The Fed ke arah yang lebih dovish memberikan dorongan tambahan pada pasar kripto.
Selain itu, pembahasan RUU “One Big Beautiful Bill Act” di Kongres AS yang diperkirakan akan memperlebar defisit anggaran negara turut menjadi katalis positif bagi aset-aset lindung nilai seperti Bitcoin. Ketidakpastian fiskal dan ekspektasi inflasi mendorong investor mencari alternatif penyimpan nilai di luar sistem keuangan tradisional.
Short Squeeze Perbesar Dorongan Harga
Kenaikan tajam harga Bitcoin juga dipicu oleh likuidasi besar-besaran terhadap posisi short. Dalam kurun 24 jam terakhir, posisi short senilai lebih dari 650 juta dollar AS terpaksa dilikuidasi, memicu fenomena short squeeze. Hal serupa terjadi pada Ether, dengan nilai likuidasi mencapai lebih dari 215 juta dollar AS. Ketika harga mulai naik secara tajam, trader yang sebelumnya bertaruh pada penurunan harga terpaksa menutup posisi dengan membeli kembali aset, sehingga justru mendorong harga lebih tinggi lagi.
Momentum ini dimulai sejak mantan Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa penggantian Jerome Powell sebagai Ketua The Fed mungkin diperlukan apabila tidak segera dilakukan pemangkasan suku bunga. Sejak pernyataan tersebut, dana yang masuk ke ETF Bitcoin terus mengalir dan kini telah mencapai hampir 16 miliar dollar AS secara total.
Dukungan Regulasi dan Prospek Jangka Pendek
Dukungan politik terhadap regulasi kripto juga memberikan fondasi yang semakin kokoh. Kongres AS tengah membahas sejumlah aturan yang diharapkan memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital. Menurut Thielen, kecuali terjadi peristiwa makroekonomi besar, harga Bitcoin diperkirakan masih akan bertahan di kisaran tinggi dalam waktu dekat.
“Kebijakan The Fed sangat menentukan arah pasar saat ini. Bila Powell bersikap dovish pada pertemuan akhir bulan ini, pasar kripto berpotensi lanjut menguat. Tapi kita tetap harus waspada, karena bisa juga sebaliknya,” ujar Thielen.
Ia juga mengingatkan bahwa musim panas biasanya membuat investor institusi lebih konservatif, sehingga kondisi jangka pendek tetap perlu dipantau secara cermat. Untuk pekan ini saja, Bitcoin telah mencatatkan kenaikan hampir 10 persen, sementara Ether melonjak lebih dari 20 persen, mencerminkan sentimen pasar yang sangat optimistis terhadap aset kripto.
