Revolusi Angkot di Bandung: Tak Lagi Ngetem, Bayar Rp7.000 Lewat Tap Digital

BANDUNG, PRFMNEWS – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tengah menyiapkan reformasi menyeluruh pada layanan angkutan kota (angkot) lewat program “angkot pintar” bertenaga listrik. Inisiatif berorientasi masa depan ini menargetkan peluncuran pada 2027 dan mengusung konsep zona layanan alih‑alih sistem trayek konvensional, sekaligus meniadakan praktik ngetem yang kerap menambah kemacetan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menguraikan, setiap penumpang akan dikenai tarif dasar Rp7.000 yang dibayar non‑tunai. Metode pembayarannya kelak memanfaatkan tap digital melalui kartu uang elektronik, scan QR Code, atau QRIS Tap berbasis Near Field Communication (NFC). Apabila penumpang berpindah kendaraan dalam kurun waktu kurang dari satu jam, tarif selanjutnya hanya 1,5 persen dari biaya pertama—sekitar Rp105. Namun, bila perpindahan tersebut terjadi lebih dari satu jam, penumpang kembali membayar penuh Rp7.000.
“Kami ingin skema tarif yang adil dan tidak membebani. Jika lebih dari satu jam, barulah dihitung dari awal,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Rabu (9/7/2025), sebagaimana dikutip PemkotBandung.go.id.
30 Zona Operasi Terintegrasi
Konsep zonasi menjadi keunikan utama dalam pengoperasian angkot cerdas. Kota Bandung akan dibagi menjadi 30 zona berbasis kecamatan. Setiap zona saling terhubung dengan moda transportasi lain, seperti Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya maupun transportasi publik berbasis rel yang telah direncanakan pemerintah pusat.
“Contohnya, penumpang dari Kecamatan Coblong menuju Sumur Bandung akan turun di batas zona Cikapayang, lalu berganti kendaraan menuju zona berikutnya,” jelas Farhan.
Dengan rancangan ini, angkot tidak lagi bebas berhenti menunggu penumpang. Setiap armada wajib menyelesaikan delapan putaran per hari di rute tetap, sesuai jadwal daring yang terintegrasi. Farhan menilai kebiasaan ngetem harus dihapus karena terbukti menimbulkan antrian kendaraan dan menggerus kepercayaan publik terhadap transportasi massal.
Mendesak karena Trayek Usang
Menurut Farhan, pembaruan sistem angkot sudah tidak bisa ditunda. Trayek yang dipakai kini masih mengacu pada penetapan tahun 1984, sementara kondisi fisik armadanya dinilai jauh dari kata laik. “Kita lihat sendiri, nyaris tidak ada angkot yang prima. Masyarakat beralih ke transportasi lain karena merasa angkot tidak nyaman,” tuturnya.
Oleh sebab itu, program angkot pintar diharapkan menjadi magnet bagi warga untuk meninggalkan kendaraan pribadi. “Jika armada nyaman, tarif jelas, dan jadwal teratur, warga akan beralih; macet pun terkendali,” tambahnya.
Manfaat Lingkungan & Ekonomi
Penggunaan kendaraan listrik membawa banyak keuntungan. Selain menekan emisi gas buang, biaya operasional armada berkurang karena listrik lebih murah daripada bahan bakar fosil. Baterai generasi terbaru bahkan sanggup menempuh jarak puluhan kilometer dalam sekali pengisian, cocok untuk rute dalam kota yang padat.
Dampak positif lain adalah pengurangan polusi suara. Kendaraan listrik beroperasi lebih senyap, sehingga kualitas hidup warga di koridor padat lalu lintas meningkat. Dari sisi ekonomi, kehadiran angkot cerdas memungkinkan terciptanya lapangan kerja baru di sektor perawatan baterai, pengisian daya, hingga pengelolaan sistem tiket digital.
Teknologi dan Pengawasan
Setiap angkot pintar bakal dilengkapi Global Positioning System (GPS), CCTV, dan sensor penumpang untuk memastikan akurasi jadwal serta keamanan di dalam kabin. Data real‑time mengenai posisi kendaraan dan jumlah penumpang akan ditampilkan di dasbor milik operator, Dinas Perhubungan, serta aplikasi publik di ponsel pintar.
Pengawasan berbasis data ini memudahkan pemerintah menilai performa setiap rute, melakukan penyesuaian armada, dan menindak pelanggaran—misalnya jika sopir berhenti di luar titik yang telah ditentukan. Seluruh sistem pengawasan diintegrasikan ke pusat kendali Bandung Command Center.
Tantangan & Kolaborasi
Meski potensinya besar, proyek ini memerlukan investasi infrastruktur yang tidak sedikit. Penyediaan stasiun pengisian daya cepat (fast charging), konversi pool, serta pelatihan pengemudi menjadi prioritas. Pemkot Bandung menjajaki sinergi dengan BUMN, produsen kendaraan listrik, hingga lembaga pendanaan internasional yang fokus pada energi bersih.
Di sisi hukum, Peraturan Daerah tentang manajemen zona dan tarif juga tengah disusun agar payung regulasinya kokoh. Sementara itu, nama resmi program masih diperdebatkan. “Prinsipnya tetap: menghadirkan transportasi publik yang bersih, aman, nyaman, modern, dan ramah lingkungan,” tegas Farhan.
Dukungan Publik & Evaluasi Berkala
Pemkot Bandung berencana membuka sosialisasi interaktif melalui forum warga, media sosial, serta uji coba terbatas agar publik memahami alur perjalanan dan metode pembayaran. Evaluasi berkala akan digelar tiap tiga bulan guna memperbaiki kekurangan sebelum angkot pintar beroperasi penuh.
Dengan target peluncuran 2027, Bandung berharap menjadi pionir kota menengah di Indonesia yang sukses melakukan transformasi angkot konvensional ke armada listrik terjadwal—sebuah langkah penting menuju mobilitas berkelanjutan, penurunan kemacetan, dan kualitas udara yang lebih sehat bagi warga
